Kuala Pembuang, https://www.mencarikeadilan.com//——— Aktivitas warga di Jalan Mayjend Soeprapto, Kelurahan Kuala Pembuang, tak luput dari perhatian aparat kepolisian pada Jumat (3/4/2026) malam. Saat sebagian masyarakat terlelap, personel Pamapta III Polres Seruyan justru bergerak menyisir titik-titik rawan, menggelar patroli dialogis hingga dini hari.
Patroli yang dimulai pukul 23.30 WIB itu dipimpin AIPTU Andi Sugiyanto, melibatkan personel piket satuan fungsi. Mereka tidak sekadar berkeliling, tetapi juga berhenti di sejumlah lokasi yang kerap menjadi tempat berkumpul warga, terutama kalangan remaja.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Polisi membaca adanya potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) pada jam-jam rawan, mulai dari balap liar hingga potensi gesekan antar kelompok pemuda.
Di lapangan, pendekatan yang digunakan cenderung persuasif. Personel berdialog langsung dengan warga, menyampaikan imbauan sekaligus menggali informasi. Polisi menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga lingkungan, termasuk keberanian melaporkan aktivitas mencurigakan.
“Kami tidak hanya patroli, tapi juga ingin mendengar langsung kondisi di lapangan dari masyarakat,” ujar AIPTU Andi Sugiyanto di sela kegiatan.
Namun, patroli ini juga menunjukkan sisi tegas aparat. Sejumlah remaja yang masih berkumpul hingga larut malam diminta membubarkan diri. Polisi menilai, pembiaran terhadap aktivitas tanpa kontrol di malam hari berpotensi memicu kenakalan remaja, seperti tawuran maupun aktivitas ilegal lainnya.
Sejumlah warga mengaku merasa lebih aman dengan kehadiran polisi pada jam-jam tersebut. Mereka menilai patroli dialogis memberi efek psikologis sekaligus pencegahan dini terhadap potensi gangguan.
Meski demikian, patroli semacam ini menyisakan pertanyaan yang lebih luas: sejauh mana efektivitas pendekatan dialogis mampu menekan angka gangguan kamtibmas secara berkelanjutan? Tanpa pengawasan rutin dan partisipasi aktif masyarakat, upaya preventif dikhawatirkan hanya menjadi respons sesaat.
Polres Seruyan menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari implementasi program Presisi Polri, yang mengedepankan pendekatan humanis. Di sisi lain, konsistensi pelaksanaan dan evaluasi dampak di lapangan menjadi kunci agar patroli tidak berhenti sebagai rutinitas administratif semata, melainkan benar-benar menjawab kebutuhan rasa aman masyarakat.
*As_MencariKeadilan.com.