https://www.mencarikeadilan.com.// ll– Kamis pagi, 11 Desember 2025, suasana di kantor PWI Provinsi Kalimantan Tengah berubah menjadi panggung penting bagi masa depan insan pers Seruyan. Bukan sekadar pertemuan rutin organisasi, Konferensi VII PWI Kabupaten Seruyan kali ini mengalir dengan tensi yang terasa hingga ke lorong-lorong gedung—memancarkan harapan, sekaligus menguak berbagai tantangan yang selama ini membayangi kinerja jurnalisme di daerah.
Ketua PWI Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Zainal, membuka jalannya konferensi dengan pesan yang tak sekadar formalitas. Nada suaranya lugas, sesekali menajam, seolah ingin menegaskan bahwa pers saat ini tengah berada di tengah pusaran perubahan.
“Kolaborasi itu bukan pilihan, tetapi kebutuhan. Pemerintah dan insan pers harus bekerja berdampingan, bukan berseberangan,” tegasnya.
Pernyataan ini bak alarm yang disuarakan lembut, namun maknanya menggurat jelas: tantangan demokrasi lokal menuntut pers yang independen, profesional, dan mampu menjadi penyeimbang kekuasaan.
Bupati Seruyan, Ahmad Selanorwanda, yang hadir sekaligus meresmikan pembukaan konferensi, memberi pesan bernuansa motivasi namun penuh penekanan.
“Konferensi ini saya harap dapat menyatukan organisasi agar lebih solid dan menyatu,” ungkapnya.
Di balik sambutan yang tampak lembut, terdapat pesan kuat bahwa pemerintah daerah membutuhkan mitra pers yang stabil, kokoh, dan tidak tercerai-berai oleh kepentingan internal.
Usai sambutan, Bupati menyerahkan pelakat kepada Ketua PWI Provinsi Kalteng—gestur simbolis yang mencerminkan hubungan harmonis antara pemerintah dan pers, meski dinamika kritis tetap harus dijaga.
Memasuki sesi internal, ruangan konferensi berubah menjadi arena keputusan penting. Tanpa perdebatan panjang atau fragmentasi kelompok, proses pemilihan berlangsung secara cepat dan tegas. Hendri Editia akhirnya ditetapkan sebagai Ketua PWI Kabupaten Seruyan periode 2025–2028 melalui aklamasi.
Sebuah keputusan bulat yang jarang terjadi, sekaligus mencerminkan kuatnya dukungan internal kepada sosok yang dinilai mampu membaca arah perubahan media masa kini.
Dalam sambutannya, Hendri tidak menutupi kenyataan bahwa PWI Seruyan kini berada di persimpangan besar. Regulasi ketat, dinamika pemberitaan, hingga gelombang disinformasi menjadi ancaman nyata terhadap profesionalitas wartawan.
“Tantangan ke depan semakin beragam. Saya mohon dukungan terutama dalam menjalin hubungan eksternal. Kita butuh soliditas agar dapat bergerak lebih kuat,” ucapnya tegas.
Pernyataan Hendri ini mengisyaratkan bahwa kepengurusannya akan fokus memperkuat integritas organisasi, memperluas jejaring komunikasi, dan menghadirkan pers yang berani, objektif, serta teguh pada kode etik.
Konferensi VII PWI Seruyan ditutup dengan suasana yang mencampur optimisme dan kesadaran penuh akan tanggung jawab besar di depan mata. Terpilihnya ketua baru membawa harapan bahwa Pers Seruyan akan tampil sebagai kekuatan kontrol sosial yang tajam, berimbang, dan tidak gentar menghadapi tekanan kekuasaan maupun kepentingan ekonomi.
Ke depan, publik Seruyan patut menantikan bagaimana roda organisasi ini bergerak, apakah mampu memperkuat marwah jurnalistik di daerah, atau justru kembali ditantang oleh dinamika internal yang kerap menghadang perjalanan organisasi media.
Yang jelas, aklamasi hari ini bukan akhir. Ini adalah awal dari babak baru peran pers dalam membangun Seruyan.
As_mencarikeadilan.com.