Ticker

6/recent/ticker-posts

ODGJ Mengamuk di Seruyan Hilir Timur, Respons Cepat Polres Seruyan Ungkap Pentingnya Pendekatan Kemanusiaan dalam Situasi Krisis


Kuala Pembuang ll Seruyan Hilir Timur https://www.mencarikeadilan.com.//— Di saat sebagian besar warga Desa Kartika Bhakti masih terlelap, ketenangan dini hari mendadak pecah. Tepat pukul 03.30 WIB, sebuah panggilan masuk ke Call Center 110 Polres Seruyan—dengan suara panik di seberang telepon melaporkan seorang pria mengamuk sambil membawa senjata tajam di Jalan Simpang Telaga Pulang. Dalam hitungan detik, situasi berubah dari sunyi menjadi darurat.

Informasi awal ini bukan sekadar laporan kriminal. Dari nada suara pelapor hingga deskripsi peristiwa, petugas jaga mengetahui: mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih rumit. “Ini bukan soal pelaku, ini soal kondisi jiwa,” ujar salah satu petugas jaga yang menerima telepon.

Begitu instruksi dikeluarkan, personel PAMAPTA III SPKT, dibantu anggota Sat Reskrim dan fungsi lain, bergerak cepat. Tidak dengan semata protokol penindakan, tetapi dengan pendekatan berbeda—pendekatan yang membutuhkan intuisi, kesabaran, dan pemahaman mendalam. Informasi berkembang cepat dari lapangan: pria tersebut diduga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang sedang mengalami fase krisis akut.

AIPDA Heru Supriyanto, yang memimpin tim PAMAPTA dalam operasi tersebut, menegaskan prioritas mereka sejak awal.

“Kami datang bukan untuk menakuti, tapi untuk menolong. Fokus utama adalah menyelamatkan semua pihak—warga sekitar, keluarga, dan dirinya sendiri,” ungkapnya.

Ketika tiba di lokasi, petugas mendapati pria itu dalam kondisi tertekan, gelisah, dan tidak stabil. Dalam situasi yang berpotensi membahayakan siapa pun yang mendekat, tim tidak terprovokasi untuk menggunakan kekuatan. 


Sebaliknya, mereka mengawali pendekatan dengan observasi, komunikasi, dan teknik de-eskalasi—langkah-langkah yang sering kali luput dari perhatian publik, namun justru menentukan keselamatan semua pihak.

Keterangan keluarga yang datang ke lokasi mengonfirmasi dugaan tim: pria tersebut memang ODGJ yang sedang mengalami kekambuhan. Informasi ini mengubah jalannya penanganan menjadi lebih humanis dan terarah.

Melalui proses penuh kesabaran, tim berhasil melucuti benda tajam dari tangan pria tersebut tanpa insiden kekerasan. Ketegangan yang semula memuncak berangsur mereda, digantikan keheningan penuh kelegaan.

“Yang seperti ini tidak bisa ditangani dengan kekerasan. Dia bukan kriminal. Dia sakit, dan dia butuh pertolongan,” ujar AIPDA Heru setelah operasi selesai.

Usai menenangkan situasi, polisi langsung menyiapkan prosedur lanjutan. Polres Seruyan menyatakan akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Satpol PP untuk memastikan pria tersebut mendapat layanan medis, rehabilitasi, serta pendampingan sesuai kebutuhan. 


Pihak keluarga juga diberi pendampingan serta akses komunikasi untuk memastikan proses berjalan aman dan transparan.

Peristiwa dini hari ini membuka mata tentang sesuatu yang lebih besar: penanganan ODGJ bukan semata urusan medis atau keluarga, tetapi panggilan kemanusiaan yang memerlukan koordinasi lintas sektor. 


Polres Seruyan menunjukkan bahwa profesionalisme dalam tugas tidak hanya diukur dari keberhasilan menegakkan hukum, tetapi juga dari kemampuan melindungi kelompok paling rentan.

Dalam diam yang kembali turun setelah kejadian, tersisa satu pesan penting: bahwa di balik setiap situasi berbahaya, selalu ada ruang untuk empati. Dan di balik setiap seragam, ada niat untuk mengulurkan tangan—bukan menghukum, melainkan menyelamatkan.


As_mencarikeadilan.com.