KUALA PEMBUANG ll SERUYAN ll https://www.mencarikeadilan.com.ll -Ditengah riuh hiburan rakyat dan sorotan lampu pergantian tahun di Stadion Gagah Lurus, Rabu malam (31/12/2025), terselip pesan kuat tentang kepedulian dan tanggung jawab sosial. Acara bertajuk “Seruyan Peduli: Berdonasi untuk Sumatera” bukan sekadar pesta rakyat, melainkan panggung solidaritas lintas institusi untuk korban banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Sorotan publik tertuju pada kehadiran Kapolres Seruyan AKBP Hans Itta Papahit yang tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi turun langsung dalam lelang amal, sebuah langkah yang jarang tersorot dalam agenda seremonial akhir tahun.
Di tengah kritik publik terhadap aparat negara yang kerap dianggap berjarak, aksi ini menjadi pesan kuat: Polri ingin hadir di tengah penderitaan masyarakat, bahkan yang berada ratusan kilometer jauhnya.
Didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Seruyan, Kapolres tampak aktif mengikuti proses lelang barang bernilai, di mana seluruh hasilnya didedikasikan penuh untuk korban bencana banjir di Sumatera.
Kehadiran Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda, unsur Forkopimda, legislatif, TNI, kejaksaan, hingga tokoh masyarakat mempertegas bahwa kegiatan ini bukan agenda tunggal, melainkan gerakan kolektif.
Namun yang menarik, keterlibatan Kapolres bukan sekadar formalitas. Melalui semangat “Police Care”, Polres Seruyan secara terbuka menunjukkan bahwa institusi kepolisian tidak hanya bekerja di balik meja penegakan hukum, tetapi juga hadir secara nyata dalam urusan kemanusiaan.
“Ini bukan soal lelang atau acara seremonial. Ini soal solidaritas. Saat saudara kita di Sumatera dilanda banjir, kita tidak boleh diam,” tegas AKBP Hans Itta Papahit di sela kegiatan.
Pernyataan ini menjadi penting, mengingat di banyak daerah, kehadiran aparat sering kali dinilai reaktif dan terbatas pada aspek keamanan. Di Seruyan, narasi itu coba dipatahkan: Polri ingin dilihat sebagai bagian dari solusi sosial.
Acara yang dikemas sebagai hiburan rakyat menyambut Tahun Baru 2026 itu berlangsung meriah, namun esensinya jauh melampaui panggung dan musik. Di balik gemerlap perayaan, tersimpan pesan bahwa empati tidak boleh tenggelam oleh euforia.
Sinergi antara pemerintah daerah, TNI–Polri, dan masyarakat yang tercermin dalam kegiatan ini menjadi catatan penting. Bukan hanya soal donasi, tetapi tentang kehadiran negara dalam wajah yang lebih humanis—hadir, peduli, dan bertindak.
Di saat bencana terus datang silih berganti dan publik semakin kritis terhadap peran aparat, langkah kecil namun nyata ini layak dicatat. Karena pada akhirnya, kepercayaan publik tidak dibangun dari slogan, melainkan dari tindakan.