Ticker

6/recent/ticker-posts

Di Bawah Pengawasan Polisi, Delapan Siswa SMP Best Agro Jalani TPA Penentu Masa Depan



Delapan Siswa SMP Best Agro Jalani TPA Penentu Masa Depan

Kuala Pembuang ll Seruyan Raya //https://www.mencarikeadilan.com.ll -Delapan siswa duduk terpaku di depan layar komputer,di sebuah ruangan yang  sudah disediakan, Bukan sekadar ujian biasa, Tes Potensi Akademik (TPA) yang mereka jalani hari ini menjadi titik balik yang dapat menentukan masa depan mereka: lolos atau tersingkir dari jalur emas menuju SMA Kemala Taruna Bhayangkara, sekolah kader unggulan milik Polri, Giat dilaksanakan di Desa Bangkal kecamatan Seruyan Raya,Minggu 11/1/2026.

Di ruang ujian, situasi jauh dari biasa. Seorang perwira Polsek Danau Sembuluh, Kanit Samapta Aipda Relly Sudarji, tampak memantau jalannya tes. 

Kehadirannya bukan sekadar formalitas, Ia memastikan tidak ada celah kecurangan, gangguan keamanan, maupun intervensi yang bisa merusak objektivitas seleksi. 

Di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap transparansi dunia pendidikan, pengawasan ini menjadi pesan keras proses ini tidak boleh cacat.

Para peserta berasal dari SMPS 5 Best Agro International, sekolah yang kini berada dalam radar pembinaan Polri. Mereka diuji dalam tiga aspek krusial: kemampuan verbal, numerik, dan penalaran spasial. Ketiga aspek ini bukan hanya mengukur kecerdasan, tetapi juga memetakan daya pikir strategis, ketahanan mental, dan potensi kepemimpinan.

Namun ujian tidak berjalan tanpa hambatan, gangguan sinyal sempat mengancam stabilitas pelaksanaan tes berbasis daring ini. Beberapa siswa terlihat harus menunggu sistem kembali normal. 

Dalam situasi seperti ini, potensi ketidakadilan selalu mengintai: apakah semua peserta mendapat waktu dan peluang yang setara? Meski panitia memastikan tes tetap berjalan adil, fakta ini menjadi catatan penting yang tak boleh diabaikan.

Kepala Sekolah SMP Best Agro International menegaskan bahwa TPA ini bukan sekadar formalitas administratif. Ini adalah pintu seleksi menuju beasiswa penuh Polri, jalur yang hanya dibuka bagi siswa dengan kecerdasan tinggi, karakter kuat, dan kesiapan mental yang matang.

“Kami ingin memastikan yang lolos benar-benar layak. Ini bukan hanya tentang nilai, tapi tentang masa depan kepemimpinan bangsa,” tegasnya.



Lebih dari sekadar ujian akademik, pelaksanaan TPA ini juga menjadi simbol masuknya aparat negara ke jantung sistem seleksi pendidikan. Polri tidak hanya mengamankan, tetapi juga memberi sinyal bahwa mereka ikut mengawasi kualitas dan integritas calon penerima beasiswa kader.

Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang lulus, tetapi apakah sistem ini benar-benar mampu menyaring yang terbaik secara objektif dan bersih?

Delapan siswa itu telah menuntaskan tes. Layar komputer telah dimatikan. Namun bagi mereka, pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. Hasil TPA ini akan menentukan siapa yang melangkah lebih dekat menuju seragam biru kebanggaan, dan siapa yang harus merelakan mimpi besar itu tertunda.

Di Desa Bangkal, sebuah seleksi kecil hari ini bisa menjadi awal lahirnya pemimpin besar di masa depan.

(*As)