https://www.mencarikeadilan.com ll Kuala Pembuang ll Seruyan // — Di tengah sorotan publik terhadap efektivitas program ketahanan pangan nasional, Polres Seruyan justru datang membawa bukti, bukan janji. Dari lahan binaan seluas 1,3 hektar di Desa Selunuk, Kecamatan Seruyan Raya, institusi kepolisian ini berhasil memanen sekitar 4 ton jagung, Kamis (8/1/2026).
Panen yang dimulai pukul 10.00 WIB itu menjadi penanda bahwa ketahanan pangan tidak harus selalu lahir dari kebijakan besar di atas meja, tetapi bisa tumbuh dari kolaborasi konkret antara aparat negara dan masyarakat desa. Hadirnya lintas sektor Polri, Pemerintah Daerah, TNI, hingga petani lokal menguatkan pesan bahwa program ini tidak berdiri sendiri, apalagi bersifat simbolik.
Namun pertanyaannya: mengapa program seperti ini justru jarang terdengar, sementara isu kegagalan dan pemborosan anggaran ketahanan pangan kerap mencuat di daerah lain?
Wakapolres Seruyan, Kompol Hendry, S.E., dalam pernyataannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan kegiatan seremonial musiman.
“Ini bentuk bakti Polri yang nyata. Kami tidak hanya menjaga keamanan, tapi juga ikut memastikan masyarakat punya sumber penghidupan dan pangan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Pernyataan ini seolah menjadi kritik diam terhadap program-program pangan yang berhenti di spanduk, proposal, dan laporan, namun minim hasil di lapangan.
Apresiasi juga datang dari Pemerintah Daerah. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Seruyan, Adhian Noor, S.IP., M.A.P., menyebut panen jagung ini sebagai implementasi konkret Asta Cita Presiden RI.
“Empat ton jagung dari lahan binaan Polri adalah bukti bahwa sinergi lintas sektor mampu menghasilkan output yang jelas dan terukur,” tegasnya.
Kehadiran Kepala Dinas Pertanian Seruyan, unsur kecamatan, Babinsa, hingga masyarakat Desa Selunuk menegaskan bahwa program ini tidak berjalan sendiri. Petani binaan terlibat langsung, dari pengolahan lahan hingga panen, menjadikan mereka subjek pembangunan, bukan sekadar penerima bantuan.
Di balik panen ini, tersirat catatan penting: program ketahanan pangan akan efektif jika pendampingan berjalan konsisten, pengawasan ketat, dan hasilnya bisa diuji secara terbuka. Empat ton jagung dari 1,3 hektar menjadi indikator awal yang layak diuji dan dikembangkan, bukan diklaim berlebihan.
Polres Seruyan menyatakan komitmennya untuk melanjutkan pendampingan dan evaluasi berkelanjutan.
Tantangannya kini adalah memastikan program semacam ini tidak berhenti sebagai keberhasilan lokal, melainkan menjadi pola yang direplikasi tanpa manipulasi data, tanpa pemborosan anggaran, dan tanpa kehilangan tujuan utama: kesejahteraan masyarakat dan kedaulatan pangan dari desa.