Ticker

6/recent/ticker-posts

Polres Seruyan Turun ke Sekolah: SERMA SEKAR Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Benteng Cegah Krisis Moral Pelajar

Kabag Ops Polres Seruyan, AKP Afif Hasan, bertindak sebagai Inspektur Upacara. 

Kuala Pembuang // Seruyan //https://www.mencarikeadilan.com.ll-Senin pagi 12/01/2026, dihalaman SMA Negeri 1 Kuala Pembuang menjadi saksi kehadiran langsung aparat penegak hukum di tengah barisan pelajar. Kabag Ops Polres Seruyan, AKP Afif Hasan, bertindak sebagai Inspektur Upacara. Namun, ini bukan sekadar agenda seremonial Upacara bendera ini adalah bentuk intervensi sosial untuk membentengi generasi muda dari ancaman perilaku menyimpang yang kian nyata.


Di tengah meningkatnya kasus kenakalan remaja dan degradasi disiplin di lingkungan pendidikan, Polres Seruyan mengambil langkah konkret yang patut dicermati publik. Melalui program Seruyan Masuk Sekolah untuk Pelajar (SERMA SEKAR), kepolisian tidak lagi hanya bertindak setelah pelanggaran terjadi, tetapi mulai masuk ke ruang paling strategis: sekolah.


Dalam amanatnya, AKP Afif Hasan menyentuh langsung akar masalah yang selama ini sering disamarkan. Ia menyebut satu per satu bentuk kenakalan remaja yang kini kerap terjadi di lingkungan pelajar seperti 
bullying, bolos sekolah, merokok, minuman keras, tawuran, balapan liar, pergaulan bebas, hingga narkoba.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Polres Seruyan tidak sedang berbicara dalam ruang kosong. Ada indikasi kuat bahwa gejala-gejala tersebut sudah mulai masuk ke ruang-ruang pendidikan di wilayah Seruyan. Dengan kata lain, SERMA SEKAR lahir bukan karena formalitas, tetapi sebagai respons atas ancaman riil terhadap masa depan pelajar.

“Isi masa muda dengan kegiatan yang positif,” tegas AKP Afif, sebuah pesan yang mencerminkan bahwa aparat kini melihat pelajar bukan sebagai objek hukum, melainkan sebagai aset bangsa yang harus diselamatkan sejak dini.


Yang menarik, SERMA SEKAR menandai pergeseran strategi kepolisian dari pendekatan represif ke preemtif dan preventif. Polisi tidak lagi hanya datang ketika ada laporan pidana, melainkan hadir sebelum masalah berubah menjadi kejahatan.

Dalam poin kedua, AKP Afif menyoroti disiplin berlalu lintas dan keamanan lingkungan sekolah. Ini bukan hal sepele. Data di berbagai daerah menunjukkan bahwa pelajar adalah kelompok yang paling rentan terlibat kecelakaan lalu lintas dan konflik sosial kecil yang berpotensi membesar.

Ketika polisi berbicara langsung di hadapan siswa dan guru, pesan itu tidak lagi bersifat abstrak. Ia menjadi peringatan langsung dari institusi penegak hukum.



Kepada siswa kelas XII, pesan yang disampaikan jauh lebih strategis:
masa depan tidak ditentukan oleh keberuntungan, tetapi oleh disiplin dan kesiapan.

Dalam konteks ini, SERMA SEKAR tidak hanya mencegah kenakalan, tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan kualitas sumber daya manusia di Seruyan. Ketika polisi berbicara tentang belajar, kerja, dan cita-cita, ini menegaskan bahwa stabilitas daerah sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya.



Respon positif dari pihak sekolah menunjukkan bahwa SERMA SEKAR mengisi kekosongan yang selama ini ada:
kurangnya komunikasi langsung antara aparat penegak hukum dan pelajar.

Di tengah derasnya pengaruh digital, narkoba, dan kekerasan remaja, kehadiran polisi di sekolah menjadi alarm sosial bahwa negara tidak boleh absen dari ruang pendidikan.

Jika dijalankan secara konsisten, SERMA SEKAR berpotensi menjadi model nasional bagaimana kepolisian bertransformasi dari “penindak” menjadi pelindung masa depan bangsa.

(*As)