Www, MencariKeadilan, Com, - bukan soal sekadar angka, ini soal akal sehat yang terabaikan oleh negara.
Ketika karyawan program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) : Kepala dapur, Akuntan, Ahli gizi, sampai pengantar ompreng digaji jutaan rupiah, Sementara guru honorer yang mencerdaskan calon - calon Generasi Penerus Bangsa hanya mendapat gaji 300 ribu /hari , Bagai mana menurut akal Sehat Publik...?!! maka yang kelaparan bukan perut, tapi nalar kebijakan.
Negara hari ini tampaknya lebih takut pada perut kosong ketimbang kepala kosong. Padahal, perut bisa diisi tiga kali sehari, tetapi kepala yang kosong akan bisa berdampak memilih kebijakan yang keliru seumur hidup !! . Dan kebijakan keliru itu lahir karena gurunya terjerat oleh sistem.
Ini ironi epistemik:
yang mengantar nasi dihargai lebih tinggi daripada yang mengantar pengetahuan.
Yang bekerja dengan sendok lebih dihormati daripada yang bekerja dengan pikiran.
Jadi jangan heran kalau republik ini sibuk membagi lauk, tapi gagal membagi masa depan. Karena sejak awal, guru diposisikan bukan sebagai fondasi peradaban, melainkan sebagai beban anggaran.
Perbedaan penghasilan ( gaji )atau pendapatan ini bukan JURANG . Ini Perihal ini diam-diam negara secara tidak lansung menjukkan bahwa PENDIDIKAN tidak dianggap PRIORITAS . Dan kalau negara sudah menganggap guru sudah tidak penting , maka jangan berharap akan lahir warga negara yang berpikir kritis. Yang lahir hanya antrean panjang… menunggu ompreng berikutnya.
Demi " Langit dan bumi " ?!
Ini lebih ke akal sehat dan mari kita smua anak-anak bangsa Berpikir Secara Logyc dan mengharap Ridho Nya.. Salam akal sehat, jejak sang Jurnalis... ( Amsiruddin ) .