Seruyan ll https://www.mencarikeadilan.com//(20/4/2026),Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi kembali terjadi. PT Pertamina melakukan penyesuaian harga pada sejumlah produk BBM, dengan lonjakan paling signifikan terjadi pada jenis bahan bakar berkualitas tinggi.
Berdasarkan informasi yang beredar, harga Pertamax tetap berada di angka Rp12.600 per liter tanpa perubahan. Namun, Pertamax Turbo mengalami kenaikan cukup tajam menjadi Rp19.850 per liter atau naik Rp6.500. Sementara itu, Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing kini dibanderol Rp24.150 dan Rp24.450 per liter, keduanya naik Rp9.650.
Penyesuaian harga ini mencerminkan tekanan yang masih kuat pada pasar energi global, termasuk fluktuasi harga minyak mentah dunia serta nilai tukar rupiah. Kenaikan pada produk BBM nonsubsidi dinilai menjadi langkah yang tidak terhindarkan guna menjaga keberlanjutan distribusi dan ketersediaan energi.
Dampak kenaikan tersebut mulai dirasakan masyarakat di wilayah Kabupaten Seruyan. Sejumlah warga mengaku harus menyesuaikan pengeluaran harian, terutama bagi mereka yang bergantung pada kendaraan pribadi maupun usaha berbasis distribusi.
“Kalau Dexlite naik hampir Rp10 ribu, jelas terasa sekali. Kami yang kerja pakai mobil operasional jadi harus hitung ulang biaya,” ujar Rahman (42), seorang pelaku usaha di Kuala Pembuang.
Keluhan serupa disampaikan Siti (35), ibu rumah tangga, yang menyebut kenaikan BBM berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. “Biasanya kalau BBM naik, ongkos angkut ikut naik. Ujungnya harga barang di pasar juga naik,” katanya.
Sejumlah warga juga berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga, terutama untuk mencegah dampak lanjutan terhadap ekonomi masyarakat kecil. Mereka menilai kenaikan BBM nonsubsidi tetap berpengaruh luas karena berdampak pada rantai distribusi barang dan jasa.
Di sisi lain, pemerintah dan Pertamina diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan serta memastikan distribusi tetap berjalan lancar di tengah dinamika harga yang terus bergerak. Transparansi dalam penetapan harga juga menjadi sorotan agar publik memahami dasar kebijakan yang diambil.
Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam penggunaan energi serta mempertimbangkan efisiensi konsumsi BBM di tengah tren kenaikan harga yang masih berlanjut.